Puasa itu menahan lapar dan haus,
puasa juga menahan amarah.
Tapi puasa di Semarang, dikos pagupon adalah sama seperti dengan hari-hari yang lain. Tak berbeda. Tetep konyol dan gial, yang pasti tetep bikin kangen.
2011
Puasa pertama tidak di Semarang.
Walaupun ga ikut puasa (tapi tetep menikmati berburu kolak, es buah, jajan2 pasar, gorengan dan kurma hohohoho saat berbuka) tapi 4 kali puasa 4 kali lebaran terlewatkan di Semarang. Dua tahun dilewatkan bersama para penghuni Kos Pagupon, yang dua tahun berikutnya silih berganti dengan penghuni baru kos pagupon, dan kadang juga sendiri.
Apa rasanya puasa di Semarang?
Tahun pertama rasanya nelangsa sekali, banyak bayangan buruk akan mati kurus (hahahaha... lebay!) karena bener2 kejadian kalo puasa minim banget warung makan, wartek di area sekaran-banaran yang buka. Hidup hanya mengandalkan mie instant dan telur rebus (sampe muka udah bunder kepleng kaya Ndok trus rai wis kaya mi kruwel-kruwel ra keruan). Atau bersandar sepenuhnya pada warung Bu Alfi belakang mini market depan gang Cempaka.Atau warteg depan SD Sekaran yang kalo siang tetep buka, tapi menunya udah ga mengundang selera coz' udah dari semalem dan dingin huhuhu... Dan akal pun bertambah seiring pengalaman, waktu anak-anak griliya nyari makan sahur jam 2, ikutan keluar dan taraaa... Sekaran at night, ramenya minta ampun. Antri!
Sangat menyenangkan ketika puasa di kosan. Awalnya kalo makan hanya dikamar, takut ganggu yang lagi puasa. Ga enak sama temen2 dan mbak2 yang lagi puasa. Tapi lama-lama kayanya udah biasa, lalu makan diluar kamar, makan sambil nonton TV. Lha wong malah disuruh keluar."Makan diluar aja Do ga papa.." hehehehehe... Tapi namanya kos cewe, kan pasti ada yang halangan jadinya pasti ga makan siang sendirian, pasti ada temen makan.
Waktu masih beramai-ramai, tiap sore mempersiapkan masakan untuk berbuka. Pernah nyoba ikut masak juga tapi cuman bertahan seminggu. hahahahaha lelah karena udah laper berat malah masakan ga mateng-mateng. Kos Pagupon terbagi dalam beberapa kelompemcakil (kelompok pemasak yang mirip cakil) hahahahaha... Kenapa mirip cakil? Karena Dapur bawah tangga yang sempit minta ampun diisi banyak manusia kaplak. Kadang ketika khusuk masak tiba-tiba nylonong tanpa dosa tikus werog. Dan masak bukan dengan gaya anggun, pasti ada yang naek turun ambil apalah, atau bertebaran ke karunia atau ke MM beli bumbu dan lain-lain. Kelompok pertama adalah gerombolan pemcakil Pati ada mbak Ana, mbak Nining, Mbak Clisty yang memasak dengan penuh keributan hahahahaha menu andalan adalah pindang gereh. Mbak Novie memasak sendiri dan untuk pacarnya Kang Otoy. Kelompok berikutnya Mbak Uk yang kadang masak-kadang ga tergantung sikon coz udah kerja, masak untuk sendiri dan Mas Ali, Mbak Endang juga masa sendiri buat mas Iwang, dan terakhir ini nih sebetulnya kandidat Master Chef. Mbak Di yang jago masak.
Ketika sahur siapa yang paling sulit bangun? Jawabannya adalah Bulik hahahaha... dengan filosofi yang dipegang teguh yaitu "nak ngelih turu, nak jengkel turu, naka kesel turu" maka ketika yang lain sahur ria bulik masih molor dengan tidak indah. Kadang cuman minum susu sambil setengah merem setengah melek, ato bikin mi di rice cooker. Atau lebih parah lagi BudheWiji yang ga puasa dan tetap menganut paham lima rasa dipagi hari sambil duduk memelas sidepan pintu kamar pantry.
Pagi hingga siang apa yang dilakukan ketika sedang puasa?
PER AWATAN...
Bulik sibuk dengan macam-macam maskernya, mulai memarut bengkoang, memeras dan mengambil sari patinya, menjemur diatas genteng PS Andis dan akhirnya hampir dipancal Kucing. Perawatan ala Siti Nur Baya jaman perang hahahaha...
Mbak Di dengan masker dan tangan tetep gerayangan diketek dan tetep khusuk mengatakan denga takzim bahwa "kelekku ambune kok enak".
Dan rata-rata karena kuliah diundur siang, dan banyak yang sudah semester tua dan lagi skripsi aktifitas pagi agak mundur.
Bangun lebih siang dari biasa.
Tidur lebih malam.
Dan Bangun jam 2 menanti sahur.
Hal paling menyenangkan saat sahur adalah makan sahur dan nonton PPT (Para Pencari Tuhan) yang abstrak dan konyol, sambil tidur-tidur ayam di kasur depan tivi.
Semakin kebelakang, mulai jarang masak karena alat masak pada ilang.
Dan penghuni kos makin dikit, sehingga untuk makan sahur biasanya beli pas malemnya dan diangetin di ricecooker.
Jadi kangen pengen ke Semarang deh...
Dan air masih menjadi kendala saat puasa.
Saat puasa air dinyalakan hanya pas pagi menjelang sahur karena ibu menjelang sahur pasti masak. Jadi kadang subuh sanyo gak dinyalain. Jadi sering banget nampung air buat persediaan mandi pagi dan sebagainya.
Dan penyusupan menyalakan air tetep berlangsung.
Nyolong rambutan?
Kita sepakat selama sebulan ga akan melakukan ketrampilan tangan yang satu ini karena dosa hehehehe... Tapi baiknya malah dikasih dianterin kekosan sama Mbah.
Kegilaan makin menjadi ketika trio pati berkumpul menjadi satu karena panggilan alam, hehehehehe... Giliran orang setelah tarawih sibuk ngaji dan mengumpulkan amal baik pa yang terjadi ga akan mudah dipercaya! Dugem gila-gilaan dengan kompy mbak Clisty.
Jengkelit-jengkelit kaya cacing kepanasan.
Dulu banget waktu puasa pertama kali di Semarang keadaan jauh lebih rame, karu-karu yang belum direnovas dan masih sempit sangat ramai. Nongkrong di Karu-karu sebelum berbuka adalah kegiatan menyenangkan, liat orang-orang pada belanja ini itu. Tapi tahun terakhir kemarin karu-karu sangat sepi, sesepi dikos karena hanya tinggal aku. Ga ada teman lagi dikos. Jadi penghuni terakhir!
Menghabiskan sore dengan sang Mantan (hehehehehehe...).
Paling sesekali buber bareng temen-temen kalo pas ada.
Pokoe tahun terakhir kemarin rasanya sepi banget, tapi juga udah menjelang lulusan dan wisuda sih...
Apalagi ya yang bisa diceritain tentang buka dan sahur di Semarang?
Paling juga tiap sore nganterin cari es buah, kolak ato apalah di sepanjang sekaran buat buka puasa...
Dan Semarang masih jadi pesona kenangan tersendiri ketika puasa tiba.
hohohohoh kangen banget pengen kesana.
Aku meh ngendiko sesuatu ya...
- fridolf paska
- Semarang, Jateng, Indonesia
- "sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna. Jika aku boleh berandai-andai maka aku ingin hidupku seperti sebatang lilin, yang kecil, namun sangat dahsyat. Mampu memberi dengan sepenuh diri, walaupun konsekuensinya adalah habis tak bersisa."
Minggu, Agustus 07, 2011
Jumat, Agustus 05, 2011
all about nyambut gawe...
Sebuah pilihan selalu menimbulkan resiko.
Akan selalu ada hubungan sebab akibat yang timbul.
Dan setiap pekerjaan serta keputusan yang diambil pasti akan selalu mendatangkan akibat.
Sound serious-(saaaaa)... hahahahahaha... Alias terdengar sangat serius.
Beberapa hari terakhir menemui kendala dikerjaan yang menguji kesabaran, kekuatan, dan keteguhan.
Rasanya udah mau nangis aja dan kabur sekabur-kabur-kaburnya dari kantor. Ada titik terendah dimana sulit sekali rasanya untuk bangkit lagi dan terus berjalan, seakan ga ada jalan keluarnya. Dan udah siap-siap kena damprat Juragan, pokoknya pikirannya udah paling buruk aja.
Laporan akhir bulan selalu bisa bikin senewen berat, apalagi kalo udah masuk ke laporan pinjaman terus laporan perkembangan dan keragaan unit. Oh My Goat is Shaun the sheeps, paringono kecerdasan ekstra. Beberapa bulan terakhir, dilaporkan telah terjadi kesalahan sistem sehingga sistem penarikan laporan harian ga bisa lancar terutama pelaporan neraca harian. And taraaaaaaa... hasilnya 2 bulan terakhir laporan akhir bulan jadi kacau minta ampun.
Seakan belum cukup kemarin malah terjadi miss comunnication instruksi soal program promo pembukaan "simpanan pihak ketiga berjangka", disamarkan untuk menutupi identitas karena bisa melanggar kode etik karena menyebut MERK! hahahahah...
Ceritanya lagi ada program promo kalo buka simpanan pihak ketiga berjangka ini alias SPKB selama bulan promo yaitu 1 agustus mpe oktober akhir bisa dapet "kembang" alias bunga lebih tinggi dari biasanya. Dan tanpa ada konfirm dari cabang, ternyata promo diundur. JEDUENKKKK... padahal udah ada nasabah yang buka. Ohhhhhhh.... NO!!!!
Jadilah sebuah masalah yang menyita seluruh pikiran dan hati sepanjang hari kemarin dan sisa hari ini,karena miss komunikasi, bukan sekedar miss lagi mungkin tapi udah terputusnya saluran komunikasi. Melelahkan sekali...
Rasanya udah mau nyerah aja.
Tapi berdasarkan sesi refresh week end lalu soal training motivasi, jika kita ingin menghancurkan sebuah batu besar, bahkan lebih besar dari raja kingkong hanya dengan palu dan wungkal, bukan dengan penghancur listrik atau sejenisnya. Maka yang harus dilakukan adalah harus tekun memukul batu itu, jika sampai 99 pukulan batu itu ga pecah lalu berhenti maka yang terjadi adalah batu itu ga akan bisa pecah. Tapi jika dipukulan keseratus kita masih mau nyoba mukul lagi, ada dua kemungkinan, MAAF ANDA GAGAL atau berhasil. Dan pecah!
Dan ternyata yang terjadi adalah batu itu pecah dipukulan keseratus tersebut.
Menjadi menarik adalah bukan karena pukulan ke seratus semata batu itu pecah, tapi andil besar pukulan pertama hingga ke sembilan puluh sembilan yang udah kita lakukan.
Mungkin yang terjadi sekarang bisa dibilang tepat banget dengan ilustrasi itu (cieh... kerennya bisa setelah 7hari langsung aplikasi sesi motivasi). Kalo mundur, karena masalah ini mundur terus nangis, tiap ada masalah mundur kaya keong ditiup angin, kadang kepikiran juga kekuatan dan ketahanan seseorang jika diuji terus menerus pasti ada celah dimana akan pas mengena dititik terendah. Ketika pas nancep dititik sensitif itu maka Blash.... semua benteng pertahanan yang dibangun sangat kuat pun bisa bobol dan runtuh.
Masih manusiawi tak pikir ketika kita dihadapkan pada satu sikon dimana kita merasa kita sangat lemah. Merasa bahwa seluruh kekuatan kita sudah ga mungkin lagi namun yang terjadi adalah sebuah tuntutan bahkan harus dihadapkan dengan dead line yang menuntut kita untuk mau ga mau harus mampu dan mau ga mau harus selesai.
Hidup selalu dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit, yaitu pilihan untuk "melakukan" alias bertindak.
Bukan lagi dua pilihan untuk sekedar memutuskan untuk ya atau tidak, benar atau salah, itu memang sebuah masalah kompleks juga. Tapi semua pertanyaan yang bertolak belakang, positif-negatif, ya-tidak ayng selalu berlawanan itu akan berujung pada sebuah tindakan.
Apapun keputusan kita, kalo cuma jadi sebuah keputusan sama aja sebuah gong yang dipukul, hanya ada gaung tanpa irama, tanpa ada makna (mungkin seperti ini ilustrasinya).
Setelah kita berpikir maka pikiran itu ga akan berguna jika ga ada wujud nyatanya alias cuma jadi sekedar omongan, tukar pikiran, sekedar kontemplasi pikiran tanpa REAL ACTION.
Kadang dan bukan hanya kadang, seringkali apa yang kita lakukan yang menurut pemikiran kita udah bener, berdasar logika berdasar hati juga ga ada yang dirugikan malah bisa dibilang jadi good solution, jadinya malah sebuah masalah besar karena ada benturan dengan hal lain yang bertentangan.
Apalagi hal ini terjadi ditempat kerja.
Merasakan kantor adalah hidup udah berjalan hampir lima bulan, kantor adalah rumah pertama. Menghabiskan waktu hampir 10 jam kadang bisa lebih (dan sebuah kemewahan ketika bisa pulang on time) mau ga mau harus membuat suasana kantor menjadi sebuah rumah bukan hanya untuk fisik tapi untuk hati.
Bukan menjadi sekedar tempat pagi datang pulang petang. Benturan dengan teman kantor akan selalu ada, rambut bisa sama hitam, bahkan boleh juga sama merk cat rambut, lebih ekstrim lagi di cat dengan warna sama, disalon yang sama, di waktu yang sama. Tapi didalamnya pasti akan ada perbedaan adat, pikiran, kebiasan dan yang paling penting watak.
Ga cocok dengan satu atau dua kebiasaan, cara ngomong, pembawaan rekan kerja sangat wajar. Orang kalo nikah tinggal seatap, berbagi ranjang dan segalanya aja masih ada ga cocoknya, masa iya cuma temen kerja yang kasarnya adalah orang asing, orang baru yang masuk dalam hidup kita karena terjebak satu tempat kerja yang sama demi duit dan nafkah masa ga terjadi friksi2.
Wajar, yang ga wajar adalah ga mau memaklumi teman kita, rekan kerja kita juga punya batasan. Punya kekurangan, punya batas kemampuan, punya waktu tersendiri dimana ada saat dimana sedang down dan sangat ingin autis alias hidup dengan pikiran dan duniannya sendiri.
Lebih parah lagi ketika harus bertemu teman kerja yang seneng "berkicau" alias ngoceh sana-sini, jilat atas injek bawah, sikut kanan kiri (amit-amit jangan sampe ketemu orang macem gini!). Belum lagi ketemu orang yang mau tau urusan orang, atau orang yang ga tau apa-apa cuma liat sekilas langsung seneng bikin hipotesa dan bikin asumsi2 sendiri, terus nyebar gosip yang lama-lama makin digosok makin sip yang isinya ngejelek-jelekin orang lain. Hufh... menyebalkan sekali.
Heran kadang, kalo ketemu rekan kerja model burung. Seneng ngoceh melulu. Apalagi selain ngoceh juga melanggar privasi orang, sibuk menyelidiki orang lain, sibuk menilai orang lain tapi ga pernah bisa menilai diri sendiri.
Banyak hal yang baru. Dunia kerja memang ajib... Beda 180 derajat dibanding dunia kuliah, dunia main-main, dunia ababil hahahahaha...
Ada 1001 kisah yang bisa ditemukan ditempat kerja. Macem-macem model. Karena ditempat kerja banyak yang kita temui dan yang kita layani. Bukan cuma nglayani atasan, tapi juga teman kerja, melayani orang lain ex.nasabah, costumer, pelanggan, dll.
menempatkan diri pada tempat yang pas mungkin adalah cara yang terbaik. Ga mencampuri urusan orang lain, ga usah sibuk nyari muka sana-sini. Toh muka kita masih nempel dikepala dan ga ilang. Bukan jadi si abu-abu juga, bukan si putih atau si hitam. Tapi menjadi orang yang bisa menempatkan emosi, perilaku yang pas solusi paling ampuh deh...
Omongan mulai nglantur kemana-mana nih...
Udah dulu ah..
C U
<3 <3<3
Minggu, Juli 31, 2011
Dosakah menjadi gemuk?
Hmmm... sering banget ketika bertemu seseorang yang udah beberapa waktu ga kita temui lalu keluar sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan selain basa-basi tanya "kerja dimana?", "sama siapa sekarang?", "masih sama si A ga?" dan "eh sekarang gemukan deh..."
Pertanyaan dan pernyataan terakhir apalagi untuk seorang cewe adalah pernyataan yang sangat sensitif. Ada banyak reaksi yang akan muncul, mungkin di lawan bicara atau bahkan kita yang dikataian "sekarang gemukan" akan seneng banget (kayanya hanya sedikit orang!) lantaran program penggemukan badan berhasil sempurna. Ada pula yang langsung ekstrim pasang tampang BT binti jutek, karena ga terima (padahal faktanya mungkin begitu), atau langsung pasang mata berkaca-kaca siap2 mewek tahap akhir karena "selamat anda menyentuh titik tersensitifnya yang bisa dibilang sebagai sebuah kekurangannya".
Jika ditanya apa kekurangan anda? dan pertanyaan itu ditujukan pada seseorang yang memiliki BB lebih, maka jawabannya adalah KURANG LANGSING.
Jika ditanya apa kelebihan anda? Jawabannya adalah opposite dari jawaban diatas yaitu KELEBIHAN LEMAK DAN BERAT BADAN. Sebuah fakta yang menjadi sebuah kelakar yang menyakitkan...
Lalu, ketika ada seorang yang sudah jelas gendut kenapa masih juga dipanggil dengan sebutan "Ndut" atau sebutan lain yang konotasinya senada dengan gendut. Namun ketika kita bertemu dengan orang yang kurus kenapa tak dipanggil dengan "Cungkring", "Si Ceking" dan sebagainya. Sebuah diskriminasi!
Seakan yang paling pas adalah menjadi seorang yang langsing, tak ada tempat bagi ukuran yang lain. Sebuah kultur yang mendiskriminasi. Seperti sebuah dosa jika menjadi gemuk.
Sehingga seperti menjadi sebuah kultur modern, tanpa tedeng aling-aling lagi iklan obat pelanging dengan berbagai merk bertebaran dimana-mana. Sebuah kultur modern yang memuja prototipe cewe langsing, tinggi, putih, montok depan belakang adalah yang paling baik dan sempurna. Kenapa menjadi seperti kultur? Tengok saja semua iklan yang ada, berapa persen si yang dibintangi oleh aktris yang "berlemak", kurang tinggi, berkulit sawo matang, berambut ikal, yang sangat lokal. Sebuah hipnotis yang tanpa kita sadari merasuk dalam pola pikir kita semua, kalo ga kaya gitu ga sempurna. Sehingga yang ada adalah apapun produk yang ditawarkan "si kutilang" alias KURUS TINGGI LANGSING akan laku keras,karena banyak orang yang terobsesi jika memakai produk itu akan jadi seperti si pengiklan, padahal yang terjadi belum tentu artis tersebut menggunakan produk yang diiklankan.
Padahal jika kita menilik jauh lebih dalam lagi, kualitas seseorang seharusnya jauh lebih penting dari apapun ukuran badannya. Mungkin bisa dipandang bahwa mungkin penampilan adalah segalanya, namun bukan hal yang mustahil jika seorang yang gemuk pun mampu tetap tampil cantik dan menarik.
Atau jika kita menilik kedalam terlebih dahulu, setiap manusia memiliki kekurangan tersendiri. Tidak semua orang terlahir dengan penampilan sempurna, jika ditawari semua orang mungkin ingin memiliki tubuh sempurna seperti Yuri SNSD, atau seperti top model. Namun sayangnya orang ga bisa memilih mau dilahirkan seperti apa, dan dengan bungkus kaya apa?
Mungkin hal terbaik adalah melihat kedalam bungkusnya.
Menjadi gendut dan berkualitas adalah jauh lebih bagus, daripada menjadi kurus tapi kemudian mengidap bulimia atau anorexia, dan jadi terobsesi sampai mengabaikan hal lain.
Setiap orang punya kekurangan, karena seperti banyak orang katakan, dan banyak kali didengungkan, no body is perfect. Tinggal gimana menutup dan mengubah kekurangan yang ada menjadi sebuah berkah buat hidup kita dan ga nyusahin orang lain syukur2 ngasi manfaat juga buat orang lain.
Mensyukuri apa yang ada aja deh, solusi yang terbaik.
Tapi mungkin demi kepuasan dan kesehatan juga, perlahan mulai olah raga teratur, makan sayur ma buah yang banyak dan batasi makan yang berlemak, buat menurunkan BB, ga usah pake obat ini itu lah... HAHAHAHAHAHAHA :)...
(Mari menguruskan badan bila perlu!!!!)
Pertanyaan dan pernyataan terakhir apalagi untuk seorang cewe adalah pernyataan yang sangat sensitif. Ada banyak reaksi yang akan muncul, mungkin di lawan bicara atau bahkan kita yang dikataian "sekarang gemukan" akan seneng banget (kayanya hanya sedikit orang!) lantaran program penggemukan badan berhasil sempurna. Ada pula yang langsung ekstrim pasang tampang BT binti jutek, karena ga terima (padahal faktanya mungkin begitu), atau langsung pasang mata berkaca-kaca siap2 mewek tahap akhir karena "selamat anda menyentuh titik tersensitifnya yang bisa dibilang sebagai sebuah kekurangannya".
Jika ditanya apa kekurangan anda? dan pertanyaan itu ditujukan pada seseorang yang memiliki BB lebih, maka jawabannya adalah KURANG LANGSING.
Jika ditanya apa kelebihan anda? Jawabannya adalah opposite dari jawaban diatas yaitu KELEBIHAN LEMAK DAN BERAT BADAN. Sebuah fakta yang menjadi sebuah kelakar yang menyakitkan...
Lalu, ketika ada seorang yang sudah jelas gendut kenapa masih juga dipanggil dengan sebutan "Ndut" atau sebutan lain yang konotasinya senada dengan gendut. Namun ketika kita bertemu dengan orang yang kurus kenapa tak dipanggil dengan "Cungkring", "Si Ceking" dan sebagainya. Sebuah diskriminasi!
Seakan yang paling pas adalah menjadi seorang yang langsing, tak ada tempat bagi ukuran yang lain. Sebuah kultur yang mendiskriminasi. Seperti sebuah dosa jika menjadi gemuk.
Sehingga seperti menjadi sebuah kultur modern, tanpa tedeng aling-aling lagi iklan obat pelanging dengan berbagai merk bertebaran dimana-mana. Sebuah kultur modern yang memuja prototipe cewe langsing, tinggi, putih, montok depan belakang adalah yang paling baik dan sempurna. Kenapa menjadi seperti kultur? Tengok saja semua iklan yang ada, berapa persen si yang dibintangi oleh aktris yang "berlemak", kurang tinggi, berkulit sawo matang, berambut ikal, yang sangat lokal. Sebuah hipnotis yang tanpa kita sadari merasuk dalam pola pikir kita semua, kalo ga kaya gitu ga sempurna. Sehingga yang ada adalah apapun produk yang ditawarkan "si kutilang" alias KURUS TINGGI LANGSING akan laku keras,karena banyak orang yang terobsesi jika memakai produk itu akan jadi seperti si pengiklan, padahal yang terjadi belum tentu artis tersebut menggunakan produk yang diiklankan.
Padahal jika kita menilik jauh lebih dalam lagi, kualitas seseorang seharusnya jauh lebih penting dari apapun ukuran badannya. Mungkin bisa dipandang bahwa mungkin penampilan adalah segalanya, namun bukan hal yang mustahil jika seorang yang gemuk pun mampu tetap tampil cantik dan menarik.
Atau jika kita menilik kedalam terlebih dahulu, setiap manusia memiliki kekurangan tersendiri. Tidak semua orang terlahir dengan penampilan sempurna, jika ditawari semua orang mungkin ingin memiliki tubuh sempurna seperti Yuri SNSD, atau seperti top model. Namun sayangnya orang ga bisa memilih mau dilahirkan seperti apa, dan dengan bungkus kaya apa?
Mungkin hal terbaik adalah melihat kedalam bungkusnya.
Menjadi gendut dan berkualitas adalah jauh lebih bagus, daripada menjadi kurus tapi kemudian mengidap bulimia atau anorexia, dan jadi terobsesi sampai mengabaikan hal lain.
Setiap orang punya kekurangan, karena seperti banyak orang katakan, dan banyak kali didengungkan, no body is perfect. Tinggal gimana menutup dan mengubah kekurangan yang ada menjadi sebuah berkah buat hidup kita dan ga nyusahin orang lain syukur2 ngasi manfaat juga buat orang lain.
Mensyukuri apa yang ada aja deh, solusi yang terbaik.
Tapi mungkin demi kepuasan dan kesehatan juga, perlahan mulai olah raga teratur, makan sayur ma buah yang banyak dan batasi makan yang berlemak, buat menurunkan BB, ga usah pake obat ini itu lah... HAHAHAHAHAHAHA :)...
(Mari menguruskan badan bila perlu!!!!)
Sabtu, Juni 11, 2011
SEBUAH SURAT DARI MASA LALU
Surya...
Untuk sebuah hari pernikahan yang sangat menyenangkan bagi semua orang layaklah suka cita dan tawa canda bertaburan ditiap sudut dan tiap hati serta wajah.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya...
Aku, Surya, seorang laki-laki biasa merasa sangat beruntung hari ini, 1 Maret 2015 ini.
Surya yang artinya adalah matahari, semoga aku mampu selalu menjadi surya untuk wanita istimewa yang ada disampingku. Yang telah memberikan hatinya, cintanya, kesanggupan niat dan komitmen untuk selalu berada disisiku dalam suka duka hingga akhirnya salah satu dari kami meninggalkan yang lain terlebih dahulu.
Wanita ini tidak lah cantik secara fisik, namun dimataku, ia adalah wanita sempurna. Bahkan dengan segal kekurangannya dia adalah yang paling sempurna.
Kemarin malam, seorang anak kecil menghapiriku dan memberikan sebuah amplop kusam dan bau apek tanda telah lama tersimpan. Kata anak itu ini adalah titipan dari Bulik Sri. Sri, nama yang simpel, nama jawa yang kata orang nama pasaran dan sedikit ndeso.
Tapi apapun itu Sri adalah dewi dihatiku.
Seperti Dewi Sri dalam mitologi jawa, dia memberikan kemakmuran, bukan secara materi namun kemakmuran dihati, rasa nyaman, aku tak harus menjadi orang lain. Menjadi laki-laki yang tampil hebat, namun hanya kamuflase.
Sri adalah pemenang hatiku.
Dia adalah wanita yang kini bersanding disisiku.
Dan wanita yang memberikan sepucuk surat usang, yang ditulis kurang lebih 5 tahun lalu.
SEBUAH SURAT DARI MASA LALU
Hari ini adalah hari yang aku tunggukan dari sekian lama, dan waktu yang panjang untuk menantimu.
Surat ini aku tulis ketika usiaku 25 tahun,
Saat aku putus asa dan berkali-kali putus cinta.
Hingga aku merasa tak sanggup lagi memandang kedepan, akankah pernikahan memang akan ada untukku.
Surat ini untukmu, suamiku, laki-laki yang ku cinta, yang memenangkan hatiku, dan seseorang yang senantiasa ku sebutkan dalam doa dan kunantikan dengan sangat.
Lama sekali aku menantimu, kukira kau datang saat usiaku masih sangat muda. 18 tahun.
Saat itu aku mengenal seorang laki-laki, aku pikir dia adalah yang disediakan Tuhan untukku. Dulu aku rasa seperti itu. Dia sangat sabar, lebih sabar dari lelaki yang pernah ada dihidupku.
Dia tak seperti bapakku, yang sangat pemarah dan otoriter.
Bapakku sangat perfeksionis, mungkin lebih tepat tegas dalam mendidikku.
Mungkin aku yang sering bandel sehingga sering kali kena bentak ketika aku melakukan hal-hal yang salah.
Bapakku semasa aku kecil sering memukul dengan rotan pemukuk kasur pada kakiku, rasanya sangat sakit.
Tapi aku rasa aku pantas mendapatkan itu, karena aku memang bandel.
Sudah dibilang ndak boleh maen, dan renang di kali sama anak laki-laki seusiaku, tapi aku tetep bandel.
Lalu ketika aku mogok ndak mau belajar, rotan itu kembali melayang.
Aku takut dengan Bapak, bahkan hingga kini. Itulah kenapa aku ndak dekat sama bapak.
Setelah ABG pun, ketika teman lain mulai berani pacaran, aku hingga umur 18 tahun setelah kuliah di luar kota baru berani pacaran.
Bisa-bisa aku dihajar Bapak lagi, kata Bapak aku ndak boleh pacaran kalo belum tamat kuliah dan kerja.
Tapi laki-laki masa lalu ini sangat berbeda, dia sangat sabar.
Ndak pernah dia berani marah, walaupun aku kadang menjengkelkan apalagi saat menjelang mens. Dia sangat amat sabar.
Sangat lembut, dan tidak merokok.
Dia juga sangat rajin berdoa, mengingatkan untuk berdoa, mengajak pergi ke gereja bersama. Hal yang sangat aku ingin lakukan, aku ingin ke gereja dengan pacar. Dan rasanya sangat tak terlukiskan, ketika pertama kali ke gereja bersama dia. Sangat senang, seperti mimpi.
Sebuah mimpi yang jadi nyata.
Namun setelah 4 tahun berjalan, dia ternyata berubah.
Dia tak setia dibelakangku sering selingkuh dengan wanita lain.
Dibibir dia katakan cinta
Namun hatinya untuk yang lain.
Hari minggu ia ada untukku, namun hari senin ia sudah pergi ke tempat yang lain dan mungkin juga melakukan bahkan mengatakan cinta dan perhatian yang sama pada yang lain.
Hatiku sangat hancur, terlebih setelah tahu selain sangat setia (selingkuh tiada akhir dengan 3 wanita), ia tak pernah tulus.
Ia pada akhirnya mulai mengungkap tak puas terhadap aku.
Aku yang berubah menjadi gendut, dan hitam karena sering kegiatan lapang.
Aku yang tak lagi berwajah mulus, ada jerawat disana-sini.
Dia bilang aku harus diet, perawatan biar cantik lagi.
Dia bilang aku harus dandan yang keren, dan modis.
Padahal itu bukan aku.
Kenapa kau tak bisa menerima aku apa adanya?
Kenapa akulah yang menjadi alasan kenapa kau akhirnya berselingkuh dibelakangmu?
Aku yang tak selembut wanita lain, bicaraku kasar dan keras menjadi alasan.
Aku tak sekurus dulu, katamu aku seperti gajah bengkak.
Apa bagimu cinta hanya sebatas fisik?
Lalu musim cinta kembali datang dalam hidupku,
Ketika aku mencoba membuka hati pada laki-laki setelah sekian lama aku menutup.
Dia laki-laki yang berbeda,
Jauh lebih matang.
Namun masa lalu yang buruk membuatnya menjadi sangat kasar dalam bertutur.
Jauh dalam lubuk hatinya sebetulnya dia sangat baik, dan sangat tulus.
Aku sangat mencintainya, bahkan aku merelakan karirku pupus.
Sebuah karir yang aku inginkan,
Aku harapkan,
Hanya demi dia.
Dia tak kan bisa digantikan dengan apapun.
Karir bisa dibari lagi.
Aku sangat bodoh.
Kata temanku, menukar berlian dengan pecahan kaca.
Walau sama-sama berkilau namun harga dan nilainya tak sepadan.
Semua orang ingin posisi itu, tapi aku sudah dapatkan kenapa malah dilepas?
Aku pikir dia juga lah tambatan hatiku yang terakhir.
Aku pikir dengan menyerahkan karirku hanya untuk dekat dengannya adalah cara supaya aku tetap memengkan hatinya.
Tapi aku sangat salah, hal yang aku selali kemudian adalah kenapa aku tak memilih karirku.
Dia juga pergi meninggalkanku demi wanita lain.
Wanita yang merupakan pilihan orang tuanya, yang katanya jauh lebih baik menurut orang tuanya.
Bibit, bebet dan bobotnya lebih jelas dan sepadan.
Dan wage ga akan cocok dengan kliwon.
Secara weton ga baik.
Akan ada yang meninggal salah satu kalau diteruskan.
Rejeki tidak gedhe seperti banyu mili.
Ramalan lain mengatakan bahwa akan terdapat banyak kesulitan yang menghalangi, sehingga ga akan sukses.
Itulah kata mereka yang tahu...
Aku tak peduli apa kata weton, kalau cinta mengapa ndak?
Kebahagiaan toh bisa diupayakan,
Ga harus kaya biar bahagia kan?
Ga harus hidup mewah juga untuk menunjukkan kita sukses?
Jodoh, Lahir, mati, rejeki semua Tuhan yang atur
Kenapa kita risaukan sekarang?
Mendahului kehendak Tuhan dengan berkata seperti itu.
Aku hanyalah serpihan kaca bila disandingkan dengan pilihan orang tuanya.
Aku tidak kaya harta, aku tak cantik, bahkan aku tak punya apapun.
Aku mengalah, kalah dan pergi.
Dengan luka dan kekecewaan, namun masih memendam cinta yang amat dalam padanya.
Sebulan... Dua bulan.... Tiga bulan berlalu
Aku masih berharap dia datang menemuiku,
Membawa kabar baik, ia akan memperjuangkan aku dan cintaku.
Namun justru jawaban yang datang dalam penantian bulan ke enam adalah sepucuk undangan emas dengan gambar Wayang Rama-Sinta.
Bertulis namanya dan wanita pilihan orang tua serta yang telah menjadi pilihan hatinya.
Cinta juga pernah datang dalam wujud yang lain.
Cinta sendiri, memendam kekaguman pada lelaki hebat
Bahkan super hebat.
Super tampan, dan menawan.
Lelaki yang gigih berjuang untuk sukses dan sangat dewasa tampaknya.
Namun aku salah lagi, tenyata dia tak lebih dari anak mami.
Ia selalu ingin menjadi prioritas, ingin dimengerti namun kadang tak mau balik mendengarkan dan mengerti orang lain.
Sangat tergantung pada orang lain, dan sangat sering marah-marah.
Namun dia sangat mengagumkan.
Pada sisi lain dia adalah seorang yang gigih memperjuangkan apa yang ia inginkan.
Ia meyakini apa yang ia akan lakukan, dan keyakinan itu dia genapi.
Yah... hanya sebatas kekaguman saja.
Tak ada keberanian untuk berharap lebih.
Atau cinta yang sangat singkat,
Dalam 3 bulan, aku telah merasa sangat jatuh hati dan sangat cocok dengan lelaki ini.
Hingga pertunangan pun telah dilakukan.
Dalam 3 bulan hubungan singkat, kedua orang tua kami terlah saling mengenal.
Sepertinya sangat cocok.
Restupun telah ditangan.
Namun takdir telah berkata lain.... Aku kembali kehilangan tunanganku.
Dunia serasa jungkir balik, salto, dan break dance.
Dia meninggal dalam sebuah kesia-siaan.
Sebuah kecelakaan tunggal karena mabuk.
Kecewa ternyata dia seorang pecandu alkohol.
Tapi lebih sakit lagi semua kembali gagal.
Umurku kini 25 tahun, dan nyaris 26.
Gelar pratu alias prawan tua mulai menghampiri.
Sangat risih ketika bertemu dengan banyak orang tua dan saudara, atau ditempat-tempat jamuan pernikahan ditanya kapan nyusul?
“Udah mapan, karir oke, umur cukup. Apalagi yang dicari?”
Semua semakin lengkap ketika adik laki-lakiku nglangkahi, menikah dulu ketika aku berusia 24 tahun.
Mencoba mengikhlaskan, dan menerima keputusan adikku.
Dia sudah siap dan telah menemukan tambatan hatinya.
Ketika menyaksikan ikrar sehidup semati yang ia ucapkan, dan senyum bahagia diwajahnya. Ingin sekali aku tersenyum dengan hati. Namun aku hanya mampu tersenyum dengan bibir.
Berusaha menjadi “no problem person”.
Tapi didalam hati terus menggemakan mantra “Aku harus kuat, Sri... kuat! Sri harus kuat... Kuat... Kuat”
Dan memang aku kuat.
Atau lebih tepatnya dikuat-kuatin.
Setelah itu aku tenggelam dalam kerja kerja dan kerja tak berhenti.
Sangat iri ketika malam minggu, adikku yang telah menikah tampak sangat bahagia, ketika berkunjung kerumah. Duduk merangkul mesra istrinya yang tengah hamil besar. Membelai sayang kening istrinya.
Adikku yang satu lagi entah kemana menghabiskan malam minggu dengan pacarnya.
Aku hanya mampu tertawa getir melihat banyolan ditelevisi.
Namun jauh dalam hatiku sangat pahit.
Impianku adalah menikah sebelum umur 25 tahun.
Tapi sekarang umurku sudah 26 tahun.
Dan selain kisah kegagalan cinta, aku tak punya seorang laki-laki yang istimewa yang disebut pacar.
Semua mungkin seperti sinetron klasik indonesia.
Masuk mulut macan, keluar eh.. malah masuk mulut gozilla, keluar lagi salah masuk lagi ke mulut buaya.
Aku sangat bingung dan pusing.
Aku harus bagaimana lagi?
Kenapa Tuhan seperti menghukumku, apa memang aku digariskan memang untuk sendiri seumur hidup?
Ketika melihat anak-anak kecil bermain, pikiranku melayang jauh.
Kapan ya aku punya anak?
Andai aja aku sekarang udah nikah dan punya anak, anakku mirip siapa ya?
Apa anakku mirip aku?
Siapa ya yang jadi suamiku?
Hufh... nyaris gila rasanya.
Sekarang sendirian, ga punya teman,
Semua teman udah nikah
Habis kerja langsung pulang, sibuk ngurus suami dan anak.
Kalau diajak main keluar, jawabannya seragam sangat kompak.
“Ga bisa......”
Sebuah ide menyeruak
Ditengah kegalauan ini, aku tuliskan kisah masa laluku dan harapku untukmu suamiku.
Ketika kamu menemukanku, aku harap kau tak kecewa.
Ingin mengubahku menjadi orang lain.
Aku ingin berubah menjadi yang terbaik bagimu namun aku harap kau tak ingin mengubahku menjadi orang lain.
Aku manusia biasa, namaku Sri
Nama yang banyak orang bilang ndeso.
Tapi cintaku memang ndeso, aku mencoba lugu dan mungkin ga macem-macem.
Aku ga pengen jujur, tidak ada kebohongan.
Kamu memang bukan yang pertama tapi kamu akan menjadi yang terakhir.
Aku ingin menjadi orang yang nanti bisa menerima kekuranganmu terlebih dulu ketimbang menerima kelebihanmu.
Aku akan berusaha menerima kelebihanmu sebagai sebuah bonus dari Tuhan.
Ketika aku marah aku mohon maaf, tapi mungkin ketika aku marah tinggalkan saja aku sendiri.
Dan ketika sudah siap nanti aku akan bicara padamu lagi.
Ketika aku menangis dan sedih, aku hanya ingin kau ada disisiku.
Menguatkan aku sehingga aku merasa tak sendirian.
Itu saja sudah cukup.
Ketika aku menggebu-gebu ingin bercerita kau sudi untuk mendengarkan aku.
Telingamu selalu ada untukku.
Aku tak ingin menjadi orang yang kaya raya dan bergelimang harta, karena semua itu tak mampu membeli kebahagiaan.
Banyak harapan yang ingin aku ucapkan,
Aku harap kau sabar menghadapi aku yang kadang bisa emosional. Sedih, marah, senang, dan sebagainya.
Aku tak mengharapkan kau setampan bintang korea idolaku, yang penting hatimu tampan sudah cukup. Setia atas komitmen kita.
Harta bisa kita cari bersama, dan harta bukan tolak ukur bahagia. Maka dari itu aku tak menuntut untuk kau bekerja keras siang malam dan lupa pada aku (dan nanti anak-anakmu).
Ketika nanti seiring bertambahnya usia, mungkin aku tak seperti sekarang.
Aku nanti mungkin gendut, tak menarik lagi, aku harap itu tak menjadi alasan bagimu untuk selingkuh dan meninggalkanku.
Ketika aku sakit, tua dan tak bisa apa-apa, aku harap juga kau akan selalu disisiku.
Sejujurnya aku sangat takut,
Ketika aku tak menemukanmu, bagaimana dan apakah aku akan sendiri terus hingga akhir usiaku?
Aku harap aku mampu memberikan yang terbaik dari diriku untukmu.
Karena katanya cinta itu memberi tanpa mengharap kembali.
Aku ingin menjadi lebah untukmu, memberi madu namun tak menyimpan madu itu untuk ku nikmati sendiri.
Ketulusan, cinta, pelayanan.
Aku ingin ketika kau sedih aku ada untukmu.
Ketika kau senang aku bisa tertawa bersamamu.
Menyemangatimu untuk terus maju dan kuat.
Kita bisa bertumbuh bersama.
Aku akan ada disampingmu selalu.
Aku tak ingin menyetir dan mendiktemu atau mengikutimu kemanapun sebagai pengikut, karena kita adalah partner.
Bukan lagi sendiri namun telah menjadi satu.
Sekian mungkin yang bisa aku tuliskan, dan aku harapkan darimu.
Aku tak tahu kau sekarang dimana?
Bagaimana wajahmu?
Namun aku selalu mendoakanmu, semoga apa yang kau lakukan senantiasa dilindungi oleh Tuhan, apa yang kau inginkan mampu tercapai dan mampu diusahakan dengan baik dan lancar.
Ketika kita bertemu nanti aku ingin menggenggam tanganmu erat.
Aku tak ingin melepaskannya.
Sampai ketemu nanti
Ketika semuanya
MENJADI INDAH PADA WAKTUNYA...
Surya...
Dan kini aku genggam tangan Sri erat-erat, tangan yang besar.
Tangan wanita yang seperti laki-laki, tegar, kuat walaupun kadang seperti anak kecil diusianya yang sudah sangat matang ini.
Tangan wanita istimewa ini.
Tak akan ku lepaskan untuk selamanya.
Selasa, Juni 07, 2011
Status
Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca postingan ini, buat yang udah sering baca dan mengikuti blog ini dari waktu ke waktu, terimakasih banyak. Buat yang baru pertamakali berkunjung, terimakasih banyak juga dan selamat datang.
Banyak status yang kita sandang dalam hidup kita. Dualisme, Tripleisme, bahkan unlimitedisme...
Status sebagai anak ke....(silahkan isi titik-titik) dari pasangan suami istri yang berbahagia yaitu bapak dan ibu kita. Status sebagai seorang pelajar, atau mahasiswa, atau pekerja, atau yang lainnya untuk status pekerjaan.
Status marital, nikah, belum nikah, belum nikah pun nantinya akan muncul pertanyaan sambungan, udah punya pacar? kenapa belum nikah? dan lain-lain.
Status ekonomi dan sosial???
Ada banyak status yang nempel pada diri satu orang. Betapa kadang status ini memusingkan rasanya.
Kemarin sempet juga BT dan sangat sebal dengan status. Ketemu temen lama yang udah lumayan lama ga ketemu. Lalu tanya-tanya kabar, biasalah, "sekarang kerja dimana?" Aku jawab di Bank "Toyib Indonesia" nama disamarkan hehehehehehehe... Lalu pernyataan standar yang muncul. "Enak ya, kerja dibank, gajinya banyak".
Hmm... jangan menilai buah dari kulitnya, jangan menilai rasa dari tampilannya.Inilah peribahasa versi kulinergirl alias girl yang suka kuliner sampe bengkak. Ga selamanya status yang melekat pada seseorang adalah yang sangat enak. Kita hanya tau dan hanya bisa menilai berdasarkan kacamata kita, tapi kita ga pernah tau bagaimana rasanya ketika kita belum pernah mencoba berada di posisi dan status itu.
Sekedar share aja,
ketika dulu punya pacar, kadang pertengkaran, cek-cok, dan ga cocok akan selalu ada, dan ketika kita lihat temen yang masih jomblo, kadang sempet kepikiran. "Wah... enak ya, bisa pergi kemana-mana sendiri, ga kaya sekarang, kemana-mana pasti ditanyain, sama siapa, kemana, kaya dikekang banget"
"Wah... enaknya jomblo, punya pacar malah ga pernah maen, malah ditinggal kerja terus sibuk sendiri terus"
Dan sebagainya-dan sebagainya...
Sementara bagi para jombloers, ketika melihat temen atau siapalah yang sedang berdua, bermesraan akan bilang sebaliknya "Wah... enak ya punya pacar, ada yang merhatiin, ada yang nelponin, ngsmsin, ada yang antar jemput"
"Wah enak ya malem minggu ga kesepian, ada yang diajak berbagi dan ngobrol"
Dan wah...wah yang lain.
Ketika masih pelajar atau mahasiswa, sering banget kita mengeluh tentang status kita, "bosen banget belajar tiap hari, pengen kerja aja, enak punya duit sendiri, bisa ngapa-ngapain pake duit sendiri"
Padahal nanti ketika status itu berubah, orang memiliki kecenderungan untuk pengen kembali kemasa lalu yang udah jadi sebuah kebiasaan dan melekat ditiap harinya, koment standar pun balik lagi "Paling enak emang jadi pelajar, uang tinggal minta, cuman suruh belajar, ga usah susah-susah kerja keras dari pagi sampe malam".
Atau status yang lain....
Akan ada banyak Wah yang muncul, ketika kita mengupas status demi status yang melekat dalam diri kita.
Namun satu hal yang menjadi sangat mendesak untuk dikupas adalah seberapa pentingkah dan seberapa berpengaruhkan sebuah status bagi eksistensi kita. Ga bisa dipungkiri, sebuah status kadang bisa juga jadi identitas diri bahkan bisa juga menimbulkan prestis. Butuh contoh, ketika aku dulu mengalami 5 bulan nganggur dan paceklik kerjaan, kadang komentar sinis sering banget muncul, "sarjana kok nganggur", atau komentar lain "males nyari kerja, terlalu idealis, udahlah tawaran yang ada ambil aja ga usah muluk-muluk" semua cenderung kearah agak miring gimana gitu.
Tapi bandingkan ketika kita bisa diterima disebuah perusahaan, sekolah atau tempat kerja yang "basah", menjanjikan masa depan cerah, dengan gaji yang hi'class dan tempat kerja elit, orang akan langsung 180 derajat berbalik arah memandang kita. Misal oh... si A yang kerja di tambang lepas pantai yang gajinya nolnya mpe ga cukup ditulis di slip pengambilan itu ya? Atau Si B Mbak Bank itu ya?
Status oh status kadang risih juga ketika dipandang orang karena status yang melekat pada kita. Terutama dipandang karena kerjaan, uang, jabatan, kecantikan, dan semuanya rasanya dangkal banget untuk dibicarakan.
Ketika kita ngomong soal uang, berapa lama si uang bisa bertahan, kekayaan bisa bertahan, emang uang dan harta ga bisa habis? Semua mungkin habis, kita ga akan pernah tau bahkan sedetik kedepan mungkin juga, misal kita punya harta 50M lalu dalam hitungan detik uang itu raib dan kita jadi ZERO, ga punya apa-apa. Lalu masihkan kita dinilai bernilai ketika materi kita lenyap identitas yang hanya berdasar materi tersebut masih diakui?
Ketika kita ngomong soal kecantikan, berapa lama juga kecantikan akan bertahan, toh cantik juga relatif?
Jabatan, kerjaan pun sama halnya dengan dua hal diatas. Semua dapat hilang dan sirna.
Mungkin terlalu naif dan idealis ketika kita meminta semua orang melihat kita sebagaimana adanya kita, semetara ga semua orang tahu betul kita seperti apa. Orang memang pertama kali akan melihat kita dari luar, apa yang kita citrakan dan kita tampilkan di luar, tapi jangan menjadi terlena oleh penilaian mata kita.Kita sering terjebak dengan status, memandang sebuah status dengan cara pandang kita saja. Padahal belum tentu yang kita pandang enak itu bener-bener enak, atau lebih parah lagi memaksakan status orang lain itu, yang kita pandang enak itu pas untuk kita.
Mulai ngomong berbelit-belit, ngaco dan mbalik maning, mbalilik maning hehehehehe
Tapi intinya, ga ada seseorang karena statusnya layak kita tinggi kan, layak kita agungkan lebih dari yang lain untuk segala suasana, dan jadi yang paling. Selama kita masih sama-sama makan nasi, so what dengan status? jangan minder dengan status atau keadaan kita sekarang ini, kerena seperti kata Mario Teguh yang sangat super, SEMUA INI HANYA SEMENTARA...
termasuk untuk para jombloers, ini ga sementara. Pasti akan ada yang pas mantap cucok buat kita, cuma Tuhan belum kasih lihat dengan gamblang ke kita aja, karena memang masih belum pas aja waktunya untuk kita tahu. semua akan indah pada waktunya
Minggu, Juni 05, 2011
Hm... secangkir kopi dimalam hari
Bingung mau kasih judul pa? Mungkin lebih nikmat kalo malam dingin kaya gini, ngopi kentel apalagi dengan sepiring gedhang kepok yang kemebul digodhok opo di goreng garing... Yummy... (dan hanya dalam angan-angan!!!) hehehehehe
Kalo ngopi, biasanya ngobrol hangat ngalor ngidul bahas dari hal yang penting sampai hal yang ga penting, tapi kalo sendirian? Ya berpikir dan berbicara sendiri aja, bercakap-cakap dengan diri sendiri...
Ngobrol ngalor ngidul, sembari teng-teng crit (tenguk-tenguk crito) adalah hal yang sangat sepele, simpel namun kayanya sekarang ga bisa sesimpel itu dilakukan, terutama selain ga ada waktu karena kesibukan masing-masing, juga autis dengan gadget masing-masing, autis dengan HP, Lapy, COmpy, FB, BB dan lain-lain.
Mari kita ngobrol ngalor ngidul dengan diri sendiri... hehehehehehe
Oia tadi sejenak melewati sebuah pekuburan china yang ada di Muntilan kalo dari arah Jogja mau ke arah Magelang ada di Kiri jalan. Udah selama 23 tahun, dan sangat sering melewati pekuburan itu, dan tadi pas ada pemakaman, dan yang nganterin pemakaman sampai kejalan raya parkirnya, ada beberapa bus Ramayan juga. Bukan ngetime tapi nganterin keluarga duka. Ada hal yang sangat menarik mengenai kematian yang harus kita bahas, wahai diriku.. Hehehehehe...
Kita ga pernah ingin dilahirkan, namun Sang Empunya hidup mempunyai rencana sehingga kita ada, pada tanggal tertentu, misal nih tanggal 12 Januari Ceprot... lahirlah seorang bayi bernama Dodo. Kalo boleh milih, mungkin semua orang bukan hanya aku ingin lahir misal aja nih, lahir ditengah keluarga A, yang tinggal di Korea, pada tanggal ini, ntar kalo udah besar mau jadi artis korea terkenal yang digila-gilai banyak orang (bukan dikatain gila...gila...gila...!). Tapi inilah misteri Illahi (seperti judul sinetron ya?), berulang kali dipikir dan direnungkan, kadang sampai butek juga, kenapa si kita dilahirkan, ada rencana apa ya Tuhan mengirim kita didunia ini?
Kadang pertanyaan itu sering muncul, "buat apa ya aku ini hidup, dan apakah sejauh ini hidupku sudah berguna?" Pertanyaan yang sangat sulit dijawab, tapi patut untuk dijalani dan diusahakan.
Sering banget ketika aku (entah kalau kalian semua) putus asa dalam hidup dan merasa tak sanggup untuk bermimpi dan memandang kedepan lagi, berkata "kayanya hidupku sia-sia, dan lebih baik kalo aku mati aja kali ya? Toh ga akan ada yang kehilangan!"
Hehehehehe... pemikiran yang mungkin bisa sangat sempit dan egois sekaligus picik, tapi ga sedikit orang yang dengan sekali Lep... langsung LENGBET (alisa meleng kesambet) mati dengan sia-sia. Kadang juga kepikiran, kalo orang bunuh diri apa si yang dirasakan? Emang bunuh diri ga sakit apa? Kok banyak yang bunuh diri? Bunuh diri dengan mengiris nadi, lha wong kena pisau aja udah perih banget kaya gitu, lhah... itu pake sengaja mengiris diri sendiri kan sakit.
Terus bunuh diri minum obat yang tidak seharusnya atau racun, pasti juga tersiksa, ndadak kejet-kejet, ndadak kesakitan.
Menggantung diri, dan lain-lain juga paling ndadak mengalami sakit dulukan?
Lalu kenapa harus menyakiti sendiri dan mengakhiri hidup dengan sia-sia? Kenapa ga mengenakkan diri aja, bukan menyakiti diri. Ga usah mikir bunuh diri, ga usah juga mikir pengen mati cepet, lha wong hanya ada 2 hal yang pasti di dunia ini, yang pertama KEMATIAN, ga usah di cepet-cepet semua orang pasti mati. Jadi tenang aja tinggal tunggu giliran kan? Hehehehehe (enteng banget le ngomong!) yang kedua adalah BAYAR UTANG. Hahahaha sebagai insan perbankan yang baik dan benar, utang adalah hal yang pasti harus dibayar pada tanggal yang telah ditentukan tiap bulan rutin "baik untuk sejumlah pokok dan bunga dan ongkos-ongkosnya" hehehehe....
Mari untuk melepas ketegangan, kita seruput kopi khayalan kita malam ini, dan ambil pisang goreng khayalan dan kita nikmati... Sruput... cleguk... cp..cp...cp..cp... Sueger....
MAri kita kemon, melanjutkan Teng-Teng Crit kita. Kenapa kebanyakan orang takut untuk hidup, tapi malah tidak takut untuk mati? Hehehehehe Seharusnya kita takut mati karena ketika kita mati, katanya harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di dunia ini, ditimbang baek buruknya, terus nunggu SK penempatan atas amal ibadah kita. Hm... menakutkan. Kita bahas yang ga menakutkan aja deh kalo gitu, hehehehe... ngeles... Entah setelah akhir hidup kita nanti apa yang akan terjadi. Kita ga tau, misterius! Cuman, jadilah pejuang untuk hidup, karena hidup memang anugerah dan sangat layak untuk diperjuangkan.
Jadi inget bulan september tahun lalu, seorang Teman kuliah meninggal setelah 1 bulan koma dan tanpa sempat sadar. Waktu nengokin ke Kudus, dalam hati menangis dan sangat bersyukur sekaligus ada banyak pertanyaan berkecamuk. Terimakasih karena aku masih bisa hidup hingga detik ini, dan menulis posting ini. Terimakasih karena aku diberikan sebuah kesempatan untuk lulus kuliah (walau prosesnya ga mudah) namun akhirnya lulus, dan setelah hampir 5 bulan menganggur dan menanti sangat panjang akhirnya sekarang bisa kerja juga.
Temanku meninggal saat skripsinya hampir selesai, kurang bab 5, dan kelengkapan aja udah bisa maju sidang. Dan andai ia masih ada disini, mungkin yang ia harapkan akan sama dengan apa yang kuharapkan, (waktu itu) lulus kuliah, wisuda, nyari kerjaan yang mapan, dan merencanakan masa depan untuk karir, menikah, dan terpasti adalah membahagiakan orang tua, membantu orang tua sebagai anak pertama. ya... hal semacam itu yang ada dipikiranku ketika menjenguk dia kurang lebih 3 hari sebelum dia pergi selamanya.
Ada banyak syukur yang aku panjatkan, ketika mengingat ini, hal terpenting adalah aku sehat, hingga hari ini aku masih sanggup bekerja mengupayakan semua dan melakukan segala sesuatu. Terutama sedikit membuat orang tuaku tersenyum (walau masih sering mengecewakan mereka). Bagi mereka yang sakit, ada banyak hal yang akan dilakukan dan dikorbankan agar mereka memperoleh kehidupan, tak peduli uang, tak peduli lagi harta benda, yang penting sembuh dan bertahan hidup.
Karena kita ga akan tahu, ga akan sadar, betapa hidup sangat berharga untuk disia-siakan. Apalagi kemudian berpikir bahwa "aku tak takut mati".
Mari kita teguk lagi kopi kita...sekedar meredakan topik yang mulai memanas dan menjadi makin berat...
Hidup itu perjuangan, kalo diibaratkan seperti seorang laki-laki atau perempuan yang mengejar cintanya. Inget acara reality show yang isinya bagaimana perjuangan seseorang untuk mengatakan cintanya pada pujaan hati, dengan cara yang unik dan berbagai cara termasuk tahan malu, tahan dipermalukan juga.
Kalo dianalogikan kita harus bisa jadi pejuang untuk diri kita. Ketika kita bener-bener jatuh, mati bukanlah solusi apalagi bunuh diri. Heran juga banyak banget artis korea yang bunuh diri karena depresi, dan masalah hidup. Padahal ganteng, cantik jan eman-eman tenan.Ini beberapa yang aku dapat dari berbagai sumber...
1.Lee Eun Joo

Pada 22 February 2005 malam hari Lee Eun Joo melakukan bunuh diri di apartementnya, di Bundang, Seongnam, hanya selang beberapa hari setelah ia lulus dari Universitas. Ia meninggal di usianya yang ke 24 tahun, dia menggorok pergelangan tangannya sendiri lalu setelah itu baru ia menggantung diri di apartementnya. Keluarganya mengatakan bahwa ia bunuh diri karena depresi berat dan mentalnya agak terganggu, dan mengatakan ia juga menderita insomnia karena melakukan adegan telanjang di film “The Scarlet Letter”. Lee Eun Joo pun meninggalkan pesan terakhirnya yang ditulis dengan darah sesaat sebelum ia meninggal yang isinya:
Bu, saya minta ma’af dan saya mencintaimu. dan juga ada sebuah catatan terpisah yang isinya:
Aku ingin melakukan banyak hal. Meskipun aku hidup, aku benar-benar tidak hidup. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun. Aku senang punya banyak uang… Aku ingin menghasilkan banyak uang.
Lee Eun Joo dikremasi dan diabadikan di dalam sebuah ruangan. Bahkan teman-teman semasa kuliahnya pun mengadakan In Memorian yang diselenggarakan sesaat setelah ia wafat.
2. Jung Da Bin

Film terakhir: He was Cool (2004)
Tv Series: That Summer Thypoon (2005)
Jung Da Bin meninggal dunia pada usia 26 tahun, tiga minggu sebelum ulang tahun ke 27. Meskipun keluarga dan teman-teman Jung Da Bin menanyakan adanya unsur non-bunuh diri dalam kematian Jung Da Bin, pihak berwajib mementahkan spekulasi tersebut setelah menjalani investigasi.
Artis muda nan cantik ini dikenal melalui penampilannya dalam film Rooftop Room Cat. Dikabarkan, Jung Da Bin mengalami depresi, sama seperti yang dialami U;nee. Kematiannya jelas merupakan sebuah kejutan besar di dunia hiburan di Korea, sebab baru sebulan sebelumnya, U;nee memutuskan bunuh diri.
Dikenal sebagai artis yang ceria dan mudah bergaul, Jung Da Bin telah muncul di banyak TV drama dan bekerjasama dengan beberapa bintang besar di Korea. Memulai karirnya sebagai model, ia mendapatkan perhatian publik pada tahun 2000 ketika ia mendapatkan peran di film Legend of Gingko sebagai versi muda dari karakter Choi Jin Sil. Karirnya semakin gemilang menginjak tahun 2003 berkat drama laris Rooftop Room Cat. Berkat drama inilah ia menjadi artis TV top.
Tahun berikutnya, ia membintangi komedi romantis layar lebar berjudul He Was Cool bersama dengan Song Seung Heon. Kemudia ia membintangi drama populer My 19-Year-Old Sister-in-Law bersama dengan Kim Jae Won. Karya terakhirnya adalah drama berjudul The Typhoon in That Summer pada tahun 2005.
3. U;Nee

Pada 21 Januari 2007, U; Nee gantug diri dirumahnya di Seogu, Incheon, Korea Selatan. Setelah kematiannya, neneknya mengadakan konferensi pers di rumah sakit. Dia membenarkan bahwa U; Nee menderita serangan depresi di mana dia mengambilobat dan mempunyai masalah yang berhubungan dengan ketenarannya, serta masalah pribadi lainnya.
4. Kim Ji Hoo

Kim Ji Hoo gantung diri di rumahnya di Jamsil, Korea Selatan pada 6 Oktober 2008. Sebuah catatan ditemukan di TKP yang berisi:
Aku kesepian dan dalam situasi yang sulit. Tolong mengkremasi tubuh saya.
Ibu Kim berkata bahwa ia mengalami banyak kesulitan, sementara polisi mengatkan bahwa ia bunuh diri disebabkan karena prasangka publik terhadap homoseksualitas terhadapnya.
Bahkan beberapa hari sebelum mengakhiri hidupnya, ia sempat menulis di webside pribadinya yang berisikan:
Life is like the wind. What’s there to agonise over? Meetings are happy, partings are sad, everything is just a moment
5. Woo Seung Yoon

Artis Woo Seung Yun yang baru saja berusia 24 tahun ditemukan meninggal pada pagi hari tanggal 27 April di rumahnya. Artis yang diperkirakan meninggal karena bunuh diri ini ditemukan menggantung dirinya di lemari pakaian. Depresi dituduh sebagai alasan dari bunuh diri tersebut.
Salah satu anggota keluarga Woo Seung Yun mengatakan bahwa baru-baru ini sang artis mendapat perawatan karena depresi yang dideritanya, tapi rupanya hal itu tak bisa menolong depresi yang sudah menggerogoti Woo Seung Yun.
Woo Seung Yun memulai karirnya sebagai model dan kemudian berakting dalam sebuah film berjudul “Herb”. Karya terbarunya adalah sebuah peran bersama Hwang Jung Min dalam film “Private Eye”.
6. Jang Ja Yeon

Seorang artis korea bernama Jang Ja-yeon ditemukan bunuh diri menggantung diri di rumahnya pada tanggal 7 Maret 2009. Artis yang membintangi Boys Before Flowers yang memerankan karakter Sunny adalah artis yang lebih mencengangkan, ternyata dia dijadikan budak sex oleh agensinya. Dia disuruh berhubungan badan dengan orang-orang kaya dan dipukuli jika dia menolak untuk melakukannya. Hal ini diketahui dari catatan yang dia tinggalkan sebelum meninggal. Bahkan rekan-rekannya di Serial Boys Before Flowers pun datang melayat seperti Lee Min Ho, Kim Joong, Kim Bum, Kim Joon, Goo hye sun, dan juga Kim So Eun serta rekan-rekan sesama artis lainnya.

7. Park Yong Ha
Banyak pertanyaan dari aktor dan juga kenalan yang mempertanyakan alasan dibalik bunuh diri bintang 'Winter Sonata' tersebut. Pasalnya, para teman-temannya itu melihat sebelum menghembuskan nafas terakhir tak ada keganjilan atau keanehan yang diperlihatkan Park Yong Ha. Tetapi, setelah diselidiki lebih lanjut, kabarnya Park Yong Ha putus asa menghadapi penyakit kanker perut yang diderita sang ayah. Ayahnya sudah cukup lama menderita penyakit serius tersebut. Park Yong Ha sangat menyayangi ayahnya dan dia merasa bersalah atas penyakit yang diderita ayahnya tersebut. Dia sangat peduli dan selalu mengkhawatirkan ayahnya. "Setelah ayahnya dinyatakan sakit kanker, Park Yong Ha merawat ayahnya. Dia selalu mengkhawatirkan ayahnya" kata salah satu teman Park Yong Ha seperti dikutip dari Allkpop, Kamis 1 Juli 2010.Demi sang ayah, aktor yang juga penyanyi ini rela istirahat sementara dari karirnya yang sedang cemerlang di dunia keartisan Korea. Dia memilih untuk tinggal di rumah dan merawat ayahnya yang sedang sakit."Dia lebih fokus merawat ayahnya," ucap temannya lagi.Keluarga besar Park Yong Ha memutuskan untuk tidak melakukan otopsi pada jenazah aktor tersebut. Mereka ingin segera memakamkan jasad Park Yong Ha.
Sangat disayangkan bukan?
Hm...
Mari kita habiskan saja kopi kita dalam sekali teguk, karena udah hampir malam dan besok juga harus kerja lagi....
Golek Do It... Golek Do It... Golek Do It...
Hehehehehe
Menyadari bahwa hidup sangat berharga adalah penting, satu buah renungan mengakhiri acara Teng-Teng Crit kita kali ini...
Ketika satu saat memang jatah kita sudah berakhir, ada berapa banyak ya orang yang akan mengantakan aku sampai tempat tidur abadi?
Setelah seratus hari berapa banyak orang yang masih mengenangku?
Setelah satu tahun berapa banyak yang mengingatku?
Setelah 1000 hari berapa banyak juga yang mengingatku pernah ada disini?
Lalu apa yang mereka ingat tentang aku?
Aku yang seperti apa???
Untuk menjawab itu mungkin sebuah solusi yang bisa ditawarkan adalah lakukan yang terbaik selagi kita masih punya waktu, mencoba lebih banyak bersyukur dan lebih banyak "tersadar" daripada terlelap dalam sadar...
Sekian...
Semoga berguna
Uahmmmm.... Ngantuk...
Kalo ngopi, biasanya ngobrol hangat ngalor ngidul bahas dari hal yang penting sampai hal yang ga penting, tapi kalo sendirian? Ya berpikir dan berbicara sendiri aja, bercakap-cakap dengan diri sendiri...
Ngobrol ngalor ngidul, sembari teng-teng crit (tenguk-tenguk crito) adalah hal yang sangat sepele, simpel namun kayanya sekarang ga bisa sesimpel itu dilakukan, terutama selain ga ada waktu karena kesibukan masing-masing, juga autis dengan gadget masing-masing, autis dengan HP, Lapy, COmpy, FB, BB dan lain-lain.
Mari kita ngobrol ngalor ngidul dengan diri sendiri... hehehehehehe
Oia tadi sejenak melewati sebuah pekuburan china yang ada di Muntilan kalo dari arah Jogja mau ke arah Magelang ada di Kiri jalan. Udah selama 23 tahun, dan sangat sering melewati pekuburan itu, dan tadi pas ada pemakaman, dan yang nganterin pemakaman sampai kejalan raya parkirnya, ada beberapa bus Ramayan juga. Bukan ngetime tapi nganterin keluarga duka. Ada hal yang sangat menarik mengenai kematian yang harus kita bahas, wahai diriku.. Hehehehehe...
Kita ga pernah ingin dilahirkan, namun Sang Empunya hidup mempunyai rencana sehingga kita ada, pada tanggal tertentu, misal nih tanggal 12 Januari Ceprot... lahirlah seorang bayi bernama Dodo. Kalo boleh milih, mungkin semua orang bukan hanya aku ingin lahir misal aja nih, lahir ditengah keluarga A, yang tinggal di Korea, pada tanggal ini, ntar kalo udah besar mau jadi artis korea terkenal yang digila-gilai banyak orang (bukan dikatain gila...gila...gila...!). Tapi inilah misteri Illahi (seperti judul sinetron ya?), berulang kali dipikir dan direnungkan, kadang sampai butek juga, kenapa si kita dilahirkan, ada rencana apa ya Tuhan mengirim kita didunia ini?
Kadang pertanyaan itu sering muncul, "buat apa ya aku ini hidup, dan apakah sejauh ini hidupku sudah berguna?" Pertanyaan yang sangat sulit dijawab, tapi patut untuk dijalani dan diusahakan.
Sering banget ketika aku (entah kalau kalian semua) putus asa dalam hidup dan merasa tak sanggup untuk bermimpi dan memandang kedepan lagi, berkata "kayanya hidupku sia-sia, dan lebih baik kalo aku mati aja kali ya? Toh ga akan ada yang kehilangan!"
Hehehehehe... pemikiran yang mungkin bisa sangat sempit dan egois sekaligus picik, tapi ga sedikit orang yang dengan sekali Lep... langsung LENGBET (alisa meleng kesambet) mati dengan sia-sia. Kadang juga kepikiran, kalo orang bunuh diri apa si yang dirasakan? Emang bunuh diri ga sakit apa? Kok banyak yang bunuh diri? Bunuh diri dengan mengiris nadi, lha wong kena pisau aja udah perih banget kaya gitu, lhah... itu pake sengaja mengiris diri sendiri kan sakit.
Terus bunuh diri minum obat yang tidak seharusnya atau racun, pasti juga tersiksa, ndadak kejet-kejet, ndadak kesakitan.
Menggantung diri, dan lain-lain juga paling ndadak mengalami sakit dulukan?
Lalu kenapa harus menyakiti sendiri dan mengakhiri hidup dengan sia-sia? Kenapa ga mengenakkan diri aja, bukan menyakiti diri. Ga usah mikir bunuh diri, ga usah juga mikir pengen mati cepet, lha wong hanya ada 2 hal yang pasti di dunia ini, yang pertama KEMATIAN, ga usah di cepet-cepet semua orang pasti mati. Jadi tenang aja tinggal tunggu giliran kan? Hehehehehe (enteng banget le ngomong!) yang kedua adalah BAYAR UTANG. Hahahaha sebagai insan perbankan yang baik dan benar, utang adalah hal yang pasti harus dibayar pada tanggal yang telah ditentukan tiap bulan rutin "baik untuk sejumlah pokok dan bunga dan ongkos-ongkosnya" hehehehe....
Mari untuk melepas ketegangan, kita seruput kopi khayalan kita malam ini, dan ambil pisang goreng khayalan dan kita nikmati... Sruput... cleguk... cp..cp...cp..cp... Sueger....
MAri kita kemon, melanjutkan Teng-Teng Crit kita. Kenapa kebanyakan orang takut untuk hidup, tapi malah tidak takut untuk mati? Hehehehehe Seharusnya kita takut mati karena ketika kita mati, katanya harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di dunia ini, ditimbang baek buruknya, terus nunggu SK penempatan atas amal ibadah kita. Hm... menakutkan. Kita bahas yang ga menakutkan aja deh kalo gitu, hehehehe... ngeles... Entah setelah akhir hidup kita nanti apa yang akan terjadi. Kita ga tau, misterius! Cuman, jadilah pejuang untuk hidup, karena hidup memang anugerah dan sangat layak untuk diperjuangkan.
Jadi inget bulan september tahun lalu, seorang Teman kuliah meninggal setelah 1 bulan koma dan tanpa sempat sadar. Waktu nengokin ke Kudus, dalam hati menangis dan sangat bersyukur sekaligus ada banyak pertanyaan berkecamuk. Terimakasih karena aku masih bisa hidup hingga detik ini, dan menulis posting ini. Terimakasih karena aku diberikan sebuah kesempatan untuk lulus kuliah (walau prosesnya ga mudah) namun akhirnya lulus, dan setelah hampir 5 bulan menganggur dan menanti sangat panjang akhirnya sekarang bisa kerja juga.
Temanku meninggal saat skripsinya hampir selesai, kurang bab 5, dan kelengkapan aja udah bisa maju sidang. Dan andai ia masih ada disini, mungkin yang ia harapkan akan sama dengan apa yang kuharapkan, (waktu itu) lulus kuliah, wisuda, nyari kerjaan yang mapan, dan merencanakan masa depan untuk karir, menikah, dan terpasti adalah membahagiakan orang tua, membantu orang tua sebagai anak pertama. ya... hal semacam itu yang ada dipikiranku ketika menjenguk dia kurang lebih 3 hari sebelum dia pergi selamanya.
Ada banyak syukur yang aku panjatkan, ketika mengingat ini, hal terpenting adalah aku sehat, hingga hari ini aku masih sanggup bekerja mengupayakan semua dan melakukan segala sesuatu. Terutama sedikit membuat orang tuaku tersenyum (walau masih sering mengecewakan mereka). Bagi mereka yang sakit, ada banyak hal yang akan dilakukan dan dikorbankan agar mereka memperoleh kehidupan, tak peduli uang, tak peduli lagi harta benda, yang penting sembuh dan bertahan hidup.
Karena kita ga akan tahu, ga akan sadar, betapa hidup sangat berharga untuk disia-siakan. Apalagi kemudian berpikir bahwa "aku tak takut mati".
Mari kita teguk lagi kopi kita...sekedar meredakan topik yang mulai memanas dan menjadi makin berat...
Hidup itu perjuangan, kalo diibaratkan seperti seorang laki-laki atau perempuan yang mengejar cintanya. Inget acara reality show yang isinya bagaimana perjuangan seseorang untuk mengatakan cintanya pada pujaan hati, dengan cara yang unik dan berbagai cara termasuk tahan malu, tahan dipermalukan juga.
Kalo dianalogikan kita harus bisa jadi pejuang untuk diri kita. Ketika kita bener-bener jatuh, mati bukanlah solusi apalagi bunuh diri. Heran juga banyak banget artis korea yang bunuh diri karena depresi, dan masalah hidup. Padahal ganteng, cantik jan eman-eman tenan.Ini beberapa yang aku dapat dari berbagai sumber...
1.Lee Eun Joo

Pada 22 February 2005 malam hari Lee Eun Joo melakukan bunuh diri di apartementnya, di Bundang, Seongnam, hanya selang beberapa hari setelah ia lulus dari Universitas. Ia meninggal di usianya yang ke 24 tahun, dia menggorok pergelangan tangannya sendiri lalu setelah itu baru ia menggantung diri di apartementnya. Keluarganya mengatakan bahwa ia bunuh diri karena depresi berat dan mentalnya agak terganggu, dan mengatakan ia juga menderita insomnia karena melakukan adegan telanjang di film “The Scarlet Letter”. Lee Eun Joo pun meninggalkan pesan terakhirnya yang ditulis dengan darah sesaat sebelum ia meninggal yang isinya:
Bu, saya minta ma’af dan saya mencintaimu. dan juga ada sebuah catatan terpisah yang isinya:
Aku ingin melakukan banyak hal. Meskipun aku hidup, aku benar-benar tidak hidup. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun. Aku senang punya banyak uang… Aku ingin menghasilkan banyak uang.
Lee Eun Joo dikremasi dan diabadikan di dalam sebuah ruangan. Bahkan teman-teman semasa kuliahnya pun mengadakan In Memorian yang diselenggarakan sesaat setelah ia wafat.
2. Jung Da Bin

Film terakhir: He was Cool (2004)
Tv Series: That Summer Thypoon (2005)
Jung Da Bin meninggal dunia pada usia 26 tahun, tiga minggu sebelum ulang tahun ke 27. Meskipun keluarga dan teman-teman Jung Da Bin menanyakan adanya unsur non-bunuh diri dalam kematian Jung Da Bin, pihak berwajib mementahkan spekulasi tersebut setelah menjalani investigasi.
Artis muda nan cantik ini dikenal melalui penampilannya dalam film Rooftop Room Cat. Dikabarkan, Jung Da Bin mengalami depresi, sama seperti yang dialami U;nee. Kematiannya jelas merupakan sebuah kejutan besar di dunia hiburan di Korea, sebab baru sebulan sebelumnya, U;nee memutuskan bunuh diri.
Dikenal sebagai artis yang ceria dan mudah bergaul, Jung Da Bin telah muncul di banyak TV drama dan bekerjasama dengan beberapa bintang besar di Korea. Memulai karirnya sebagai model, ia mendapatkan perhatian publik pada tahun 2000 ketika ia mendapatkan peran di film Legend of Gingko sebagai versi muda dari karakter Choi Jin Sil. Karirnya semakin gemilang menginjak tahun 2003 berkat drama laris Rooftop Room Cat. Berkat drama inilah ia menjadi artis TV top.
Tahun berikutnya, ia membintangi komedi romantis layar lebar berjudul He Was Cool bersama dengan Song Seung Heon. Kemudia ia membintangi drama populer My 19-Year-Old Sister-in-Law bersama dengan Kim Jae Won. Karya terakhirnya adalah drama berjudul The Typhoon in That Summer pada tahun 2005.
3. U;Nee

Pada 21 Januari 2007, U; Nee gantug diri dirumahnya di Seogu, Incheon, Korea Selatan. Setelah kematiannya, neneknya mengadakan konferensi pers di rumah sakit. Dia membenarkan bahwa U; Nee menderita serangan depresi di mana dia mengambilobat dan mempunyai masalah yang berhubungan dengan ketenarannya, serta masalah pribadi lainnya.
4. Kim Ji Hoo

Kim Ji Hoo gantung diri di rumahnya di Jamsil, Korea Selatan pada 6 Oktober 2008. Sebuah catatan ditemukan di TKP yang berisi:
Aku kesepian dan dalam situasi yang sulit. Tolong mengkremasi tubuh saya.
Ibu Kim berkata bahwa ia mengalami banyak kesulitan, sementara polisi mengatkan bahwa ia bunuh diri disebabkan karena prasangka publik terhadap homoseksualitas terhadapnya.
Bahkan beberapa hari sebelum mengakhiri hidupnya, ia sempat menulis di webside pribadinya yang berisikan:
Life is like the wind. What’s there to agonise over? Meetings are happy, partings are sad, everything is just a moment
5. Woo Seung Yoon

Artis Woo Seung Yun yang baru saja berusia 24 tahun ditemukan meninggal pada pagi hari tanggal 27 April di rumahnya. Artis yang diperkirakan meninggal karena bunuh diri ini ditemukan menggantung dirinya di lemari pakaian. Depresi dituduh sebagai alasan dari bunuh diri tersebut.
Salah satu anggota keluarga Woo Seung Yun mengatakan bahwa baru-baru ini sang artis mendapat perawatan karena depresi yang dideritanya, tapi rupanya hal itu tak bisa menolong depresi yang sudah menggerogoti Woo Seung Yun.
Woo Seung Yun memulai karirnya sebagai model dan kemudian berakting dalam sebuah film berjudul “Herb”. Karya terbarunya adalah sebuah peran bersama Hwang Jung Min dalam film “Private Eye”.
6. Jang Ja Yeon

Seorang artis korea bernama Jang Ja-yeon ditemukan bunuh diri menggantung diri di rumahnya pada tanggal 7 Maret 2009. Artis yang membintangi Boys Before Flowers yang memerankan karakter Sunny adalah artis yang lebih mencengangkan, ternyata dia dijadikan budak sex oleh agensinya. Dia disuruh berhubungan badan dengan orang-orang kaya dan dipukuli jika dia menolak untuk melakukannya. Hal ini diketahui dari catatan yang dia tinggalkan sebelum meninggal. Bahkan rekan-rekannya di Serial Boys Before Flowers pun datang melayat seperti Lee Min Ho, Kim Joong, Kim Bum, Kim Joon, Goo hye sun, dan juga Kim So Eun serta rekan-rekan sesama artis lainnya.

7. Park Yong Ha
Banyak pertanyaan dari aktor dan juga kenalan yang mempertanyakan alasan dibalik bunuh diri bintang 'Winter Sonata' tersebut. Pasalnya, para teman-temannya itu melihat sebelum menghembuskan nafas terakhir tak ada keganjilan atau keanehan yang diperlihatkan Park Yong Ha. Tetapi, setelah diselidiki lebih lanjut, kabarnya Park Yong Ha putus asa menghadapi penyakit kanker perut yang diderita sang ayah. Ayahnya sudah cukup lama menderita penyakit serius tersebut. Park Yong Ha sangat menyayangi ayahnya dan dia merasa bersalah atas penyakit yang diderita ayahnya tersebut. Dia sangat peduli dan selalu mengkhawatirkan ayahnya. "Setelah ayahnya dinyatakan sakit kanker, Park Yong Ha merawat ayahnya. Dia selalu mengkhawatirkan ayahnya" kata salah satu teman Park Yong Ha seperti dikutip dari Allkpop, Kamis 1 Juli 2010.Demi sang ayah, aktor yang juga penyanyi ini rela istirahat sementara dari karirnya yang sedang cemerlang di dunia keartisan Korea. Dia memilih untuk tinggal di rumah dan merawat ayahnya yang sedang sakit."Dia lebih fokus merawat ayahnya," ucap temannya lagi.Keluarga besar Park Yong Ha memutuskan untuk tidak melakukan otopsi pada jenazah aktor tersebut. Mereka ingin segera memakamkan jasad Park Yong Ha.
Sangat disayangkan bukan?
Hm...
Mari kita habiskan saja kopi kita dalam sekali teguk, karena udah hampir malam dan besok juga harus kerja lagi....
Golek Do It... Golek Do It... Golek Do It...
Hehehehehe
Menyadari bahwa hidup sangat berharga adalah penting, satu buah renungan mengakhiri acara Teng-Teng Crit kita kali ini...
Ketika satu saat memang jatah kita sudah berakhir, ada berapa banyak ya orang yang akan mengantakan aku sampai tempat tidur abadi?
Setelah seratus hari berapa banyak orang yang masih mengenangku?
Setelah satu tahun berapa banyak yang mengingatku?
Setelah 1000 hari berapa banyak juga yang mengingatku pernah ada disini?
Lalu apa yang mereka ingat tentang aku?
Aku yang seperti apa???
Untuk menjawab itu mungkin sebuah solusi yang bisa ditawarkan adalah lakukan yang terbaik selagi kita masih punya waktu, mencoba lebih banyak bersyukur dan lebih banyak "tersadar" daripada terlelap dalam sadar...
Sekian...
Semoga berguna
Uahmmmm.... Ngantuk...
Jumat, Juni 03, 2011
CEWE ISTIMEWA
(curahan hati seorang cewe biasa yang mencoba menjadi luar biasa dalam dunia kecilnya yang tak berarti...)
Aku bukan cewe cantik
Dan aku merasa aku bukan cewe yang jelek.
Tapi aku ini istimewa
Aku juga bukan seorang yang lemah lembut dan panjang sabar.
Dan aku bukan pula cewe yang hanya mengandalkan otot tanpa otak,
Kadang hidup menuntut untuk begitu bukan?
Tapi aku tahu aku ini istimewa
Aku bukan pula seorang tanpa cacat cela.
Tapi aku tetap yakin aku ini istimewa
Mengapa aku istimewa?
Karena semua yang ada padaku begitu indah.
Karena aku tak sama dengan yang lain
Dan karena aku mencintai diriku apa adanya diriku.
Aku istimewa karena aku tidak cantik
Tapi cukuplah aku tahu kalau ga semua orang bisa melihat kecantikanku.
Aku tak cantik secara fisik, tubuhku tak molek,
Suaraku tak merdu,
Rambutku tak panjang tergerai indah,
Dan lebih lagi tak ada materi berlimpah disekelilingku laksana putri negeri dongeng.
Tapi aku tetap yakin aku istimewa.
Bahkan jika didalam photo pun tak ada yang istimewa yang mampu aku kesankan pada dunia.
Aku tak mampu bergaya narsis yang cute,
udah usaha keras banget tapi malah jadinya aneh dan aku rasa sangat konyol.
Apa istimewa itu?
Cantik? Tidak!
Kaya? Tidak!
Seksi? Ga juga!
Istimewa adalah keadaan batin
Ketika bisa menerima diri apa adanya termasuk kekurangan kita.
Tanpa harus resah tentang kata orang.
Mungkin bisa dibilang larik-larik kalimat ini adalah sebuah kenarsisan
What ever deh...
Yang pasti kalo bukan kita yang bangga atas diri kita siapa lagi?
Siapa lagi yang mau anggap kita istimewa kalo bukan diri kita sendiri?
Ga mungkin banget kita minta orang lain anggap diri kita istimewa sementara kita minder dengan apa yang kita punya...
Tuhan ga pernah nyiptain produk gagal.
Tuhan ga juga nyiptain sebuah makhluk yang jelek,
Sehingga oplas adalah jalan menyelamatkan kehidupan yang jelek ini,
Kosmetik yang melimpah ruah merk dan variannya adalah jadi dewa penolong.
Jelek atau cantik dan tampan itu relatif...
Toh kita ga bisa mendefinisikan, sempurna itu apa?
Siapakah yang sempurna?
Buat apa menjadi munafik dengan menjadi orang lain atau mirip orang lain agar kita tampak sempurna, namun kita menipu diri sendiri, bahwa itu bukan kita!
Apakah sempurna itu langsing, berkulit putih, tinggi, cantik tanpa cela?
Apakah sempurna itu tampan, tinggi, gagah, six pack, atletis, dan klimis?
Tidak juga bukan?
Coba deh kita bayangkan ketika 40 tahun mendatang apakah itu masih sempurna seperti sekarang?
Apakah waktu tak kan mengambil kemudaan yang sementara ini?
So...
Dimana Letak Cantik, Jelek, dan kesempurnaan itu?
Penerimaan diri apa adanya mungkin lebih baik...
Jawabannya mungkin ada dihati kita masing,
ga usah sirik dengan kelebihan orang lain...
ga usah juga menjadi orang lain agar terlihat lebih menarik.
apa adanya yang ada apanya mungkin jauh lebih baik.
Apapun itu,
Aku gendut... fakta kok, kenapa mesti diingkari!
Pengen langsing, kadang... minder dengan kebesaran anugerah Tuhan ini?
Tapi buat apa jadi langsing kalo cuman buat memenuhi ambisi seseorang agar dibilang cantik, dan dia tetap setia didekat kita...
Jika ada laki-laki yang berkata “Aku tambah cinta deh sama kamu, karena kamu sekarang cantik banget kalo langsing gini...”
Cepat lari, tinggalkan dia...
Aku emang hitam, tidak putih, dan tidak molek
Jika seorang laki-laki berkata “Coba kamu lulur, spa, biar agak putih, kamu dulu cantik waktu masih putih...”
Cepat pergi dari dia...
Karena dia tak tulus..
Dia hanya memuja tubuhmu,
Dia hanya melihat fisikmu, bukan hatimu.
Dia hanya ingin tubuhmu, tapi tak mengerti cinta itu apa.
Mencintai itu dari hati.
Lalu???
Yah... syukurin aja apa yang ada.
Toh apapun keadaanmu sekarang, jangan berkecil hati.
Kamu harus bersyukur, kamu punya dua pasang mata yang sehat dan awas.
Kamu punya tangan yang sanggup berkarya dan memberi.
Mulut yang bisa menjadi berkat dengan berkata yang menyejukkan dan senyum yang paling manis.
Telinga yang tak tuli, dan jangan ditulikan dengan mendengarkan diri sendiri tapi juga harus membuka telinga dan hati untuk orang lain.
Semua yang ada padamu harus disyukuri, terserah orang mau bilang apa...
Yang penting ingat... KITA TERLAHIR ISTIMEWA!!!
Langganan:
Postingan (Atom)

